12/14/2012

Desa Cupunagara



                  
Wilayah
  1. Pemetaan Wilayah
Desa cupunagara merupakan salah satu desa yang terletak di Kecamatan cisalak, Kabupaten Subang. Sebuah desa yang luas dan indah, merupakan dataran tinggi yang memiliki luas wilayah 3.226,201 Ha dan dengan batas-batas wilayah sebelah utara berbatasan Utara Desa Cibitung Kecamatan Ciater, sebelah selatan Kabupaten Bandung, sebelah timur Desa Maang Kecamatan Tanjung Siang dan sebelah barat Wangun Harja, Lembang. Desa Cupunagara dikelilingi dengan perkebunan teh terutama di dusun Sukamulya oleh karena itu desa cupunagara memiliki produk unggulan di bidang perkebunan yaitu  teh tidak hanya itu terdapat pula keunggulan lain dalam perkebunan yaitu gula aren. Alat transportasi umum yang digunakan di desa ini hanyalah ojek dan sedikit adanya kendaraan mobil. Karena akses jalan yang sangat jauh, sehingga warga banyak yang memilih berjalan kaki dan kendaraan bermotor roda dua daripada mobil. Jumlah Penduduk desa cupunagara + 5000 jiwa dan Jumlah KK  + 2500.
Aparatur desa:
Nama Kepala Desa                       : Bpk. Ateng Rosidin
Kepala Dusun Bukanagara          : Bpk.Kusman
Kepala Dusun Sukamulya           : Bpk.Ita Kuswara
Kepala Dusun Cimangun             : Bpk. Aceng
Kepala Dusun Cibitung                 : Bpk. Asep
Foto peta Desa Cupunagara





Desa Cupunagara terdiri dari 4 Dusun, yaitu Dusun Bukanagara, Dusun Sukamulya, Dusun Ciwangun, dan Dusun Cibitung. Adapun Jarak antar dusun dengan menjadikan dusun Sukamulya sebagai patokan awal yakni :
Dusun Sukamulya dengan dusun bukanagara                       : + 2KM
Dusun Sukamulya dengan dusun Ciwangun              : + 5 KM
Dusun Sukamulya dengan dusun Cibitung                  : + 7 KM
Dengan kendalanya :
-       Jalan Rusak
-       Jarak antar dusun dan Desa Cupunagara ke kecamatan sangat jauh
-       Tidak adanya angkutan umum khusus transportasi antar dusun
Sementara itu Jarak dari desa ke Kecamatan Cisalak / Pusat Pemerintahan 17 KM . Mayoritas mata pencaharian Penduduk ialah Bertani dan Berkebun. Walau ada pula yang melakukan usaha kecil-kecilan seperti berdagang dan lain-lain
Desa cupunagara memiliki keunikan lain yakni memiliki mata air sebanyak 7 titik dan tempat-tempat yang dikeramatkan Masyarakat yaitu :
-       Situs Cipabeasan terletak di dusun 2 tepatnya di kampung Sukamulya desa Cupunagara yang konon dipercayai masyarakat sebagai tempat berziarah untuk mandi (agar awet muda, mendapat jodoh), danau yang ditumbuhi pohon Bayongbong (konon merupakan tumbuhan yang dianggap sebagai asal muasal padi), aliran air danau dan sungai yang terkadang berwarna putih seperti air beras. Oleh karenanya daerah ini dinamai Cipabeasan. Masyarakat pada umumnya melakukan kegiatan ritual guna mengharapkan keselamatan dan hasil panen yang baik.
-       Gunung Sunda
-       Napak Tilas Eyang :
Dusun 1: Embah Gajahgumarang, Eyang Sumadilaga
Dusun 2: Eyang Prabuwali, Eyang Murjang
Dusun 3: Eyang Cibadak
Dusun 4: Eyang Haji
Tempat kramat tersebut memiliki juru kunci/kuncen yang menjaga dan melestarikan tempat tersebut dan mendapat SK dari pemerintah diantaranya:
-          Pa Aweng
-          Ibu Enes
-          Ibu Rohmah
Terdapat pula beberapa nama kuncen lain yang mengelola tempat-tempat tersebut namun belum memiliki SK.
Para tokoh-tokoh masyarakat diantaranya:
Pemangku Adat[1] : Bpk.Rahmat
Pemangku Agama   : Bpk. Olih dan Bpk.Hj. Dana
Kepala MUI              : Bpk Hj.Tajudin
Tokoh Seni Musik   : Bpk. Ade
Luas Wilayah yang telah digunakan :
LUAS PEMUKIMAN
46 ha/m²
LUAS PERSAWAHAN
260 ha/m²
LUAS PERKEBUNAN
1040 ha/m²
LUAS KUBURAN
5 ha/m²
LUAS PEKARANGAN
1 ha/m²
LUAS TAMAN
-
PERKANTORAN
3 ha/m²
LUAS PRASARANA UMUM LAINNYA
3 ha/m²
TOTAL LUAS
1358 ha/m²
Tanah Sawah
Sawah irigasi teknis
-
Sawah irigasi ½ Teknis
235 ha/m²
Sawah tadah hujan
25 ha/m²
Sawah pasang Surut
-
Tegal/Ladang
17 ha/m²
Pemukiman
46 ha/m²
Pekarangan
1 ha/m²
Total Luas
64  a/m²
Tanah Perkebunan Rakyat
-Ha/m²
Tanah Perkebunan Negara
60 ha/m²
Tanah Perkebunan Swasta
-Ha/m²
Tanah Perkebunan perorangan
8 ha/m²
Total Luas
68 ha/m²
Desa Cupunagara memiliki Potensi yaitu :
-       Pemandangan yang indah dimana setiap dusun diapit dan   berbatasan  langsung    dengan gunung, sungai dan lembah
-       Udara yang masih Asri
-       Tempat-tempat bersejarah
-       Dekat dengan Lembang
-       Adanya berbagai macam kesenian Tradisional dan acara adat (Alat musik : kecapi, suling dan gendang. Kesenian : Sisingaan dan Tarduk).
1. Asal Muasal Situs Cipabeasan dan penamaan desa Cupunagara[2]
Pasir Kerta Manah
Lembah pasir kertamanah terdapat tempat yang bernama cipabeasan, terdapat danau yang berbentuk seperti tempat beras/goah/gentong. laki-laki tabu, tidak boleh menyimpan dan mengambil beras. Jika ada maka mereka2 akan mengalami hal kewanitaan seperti datang bulan. Konon katanya ketika masih ada manusia setengah dewa di sini terdapat kerajaan. Terdapat pula batu lawang sebagai tempat untuk bertahta. Seorang raja dan tempat perlindungan dari serangan musuh. Jika dilihat bukit di cibaeasan itu berbentuk seperti istana. Kemudian disinilah merupakan pusat kerajaan yang bernama Buninagara.
Nama rajanya yakni:
Bu =Buana, Ni = Ningrat, Na = Naga, Ra = Rastapati
Jaman dahulu didalam mengetahui luas kekuasaan seorang raja itu berdasarkan dengan apa yang dilihat (sejauh mata memandang).
Lalu mengapa cipabeasan dikeramatkan ?
Terdapat 4 titik yang dianggap terdapat keramat.  Dimana para juru kunci/kuncen konon mendapat ilham. Berdasarakan dari apa yang dikatakan oleh tokoh adat. Ratu ayu komalaningru, Dewi ratna ningrum, Dewi sri ningrum, Dewi naga ningrum
Mereka-mereka tinggal di kaputren (tempat tinggal istri raja) “Eyang tolong sampaikan sama Allah……” Berikut petikan kata2 para peziarah. Sekali lagi ini hanya merupakan mitos belaka. Tempat ini selalu didatangi para peziarah untuk : Mendapatkan hasil panen yang berlimpah, awet muda dan jodoh. Keunikan lain dari Cipabeasan itu terkadang keluar air berwarna putih  seperti beras, dan penampakan ikan mas besar. Kemudian setelah beberapa lama kerajaannya pun berganti dan bernama menjadi kerajaan Cipunagara.
Dimana rajanya itu bernama Ci = Ciungwanara, Pu = Putra, Na = Naganingrum, Ga = gantayang, Ra = rande
Ciungwanara sendiri merupakan raja pasundan yang terkenal. Konon gentayang rande itu terkadang menjelma menjadi ular.
Tetapi, kerajaan ini dipegang dan dijalankan oleh : Nyi raden cipunaganingrum. Dan dibantu oleh 4 orang :
-          Jaga raga
-          Prabu ider buana (suka menampkan diri berupa ular untuk menakut-nakuti bagi yang akan berbuat jahat)
-          Prabu gender
-          Prabu kerti ( bukit kertamanah, masih dugaan)
Berikut dan periode kerajaan yang menguasai. Sampai suatu ketika terjadi bencana longsor dan menutupi danau dan secara tiba-tiba ditumbuhi tumbuhan bayombong.
Ritual besar umumnya dilakukkan masyarakat terutama pada 14 Mauludan, rincian ritualnya yakni seperti:
-          Tawasulan
-          Mengambil bayombong
Konon bayombong itu adalah nenek moyang padi. Tidak berbuah hanya berbunga dan dikawinkan dengan tanaman Manjah yang hanya berbuah tidak berbunga, jadilah padi.
Dipercaya dahulu kala tumbuhan bayombong ini merupakan kenang-kenangan dari nenek moyang (dewi sri ningrum). Barang siapa yang membawa dan menanam bayombong di sawah mereka maka dipercaya padi akan tumbuh subur dan berisi.
Digunakan pula untuk meminta sambil tawasulan, jika jumlah helai daun bertambah maka keinginan akan terkabul (dilakukan di kapuntren dewi sri). Jadi, jika dilihat dari kisahnya dapat disimpulkan bahwa asal muasal padi itu berasal dari sejarah cipabeasan.
Uniknya hingga saat ini tumbuhan bayombong tidak pernah mati bahwa pernah dibabat namun tetaplah tumbuh subur kembali. Dan konon jika Bayongbong di Cipabeasan tumbuh baik maka padipun akan tumbuh baik. Demikian legenda buminagara dan cipunagara. Ini hanya mitos desa dan bersumber pada tokoh adat setempat.
Cupunagara
Cupunagara merupakan berasal dari peristiwa berpindahnya raja dari tempat yang longsor yang mana menimbun kerajaan buninagara dan cipunagara.
Nama kerajaan yang pindah itu sendiri yakni Cupunagara dimana Nama rajanya Cu=Curawinangai, Pu=Purtodewo, Na=Naga, Ra=Rande berdasarkan mitos kerajaan. Sementara itu terdapat pula penafsiran lain yakni : Cupunagara : cupu+naga+sagara.
Cupu= adalah tempat menyimpan barang antik/pusaka dan jimat. Jimat sendiri memiliki dua persepsi yang berbeda ada jimat yang berarti sebuah benda pusaka, ada pula yang mendefinisikan jimat sebagai sebuah putra mahkota, putra bangsa terbaik. Diharapkan jika keluar dari cupu maka akan bermanfaat bagi negara kelaknya. Dengan dasar seperti itu maka bekas napak tilas pusat kerajaan Cupunagara itu dibangun sekolah-sekolah seperti SD dan SMP dengan maksud dan tujuan bahwa sekolah tersebut nantinya dapat melahirkan putra-putri bangsa terbaik selayaknya mitos dari cupu itu sendiri.
Naga = nama Naga sendiri itu berasal dari bentuk mata air dan sungai yang seperi naga, terletak dan dapat dilihat jika kita berada di pegunungan kampung sukamulya. Seperti naga yang sedang membuka mulutnya.
Sagara = hilir sungai yang berasal dari hulu sungai yang terletak di desa cupunagara.
Berikut sejarah asal muasal nama desa cupunagara beserta tempat-tempat yang dikeramatkannya.

[1] Baru ditetapkan sebagai pemangku adat desa Cupunagara pada tanggal 10 Februari 2011 oleh Sekretaris Kecamatan Bpk. Vino S
[2] Berdasarkan mitos yang disampaikan oleh Bapak Rahmat selaku Tokoh Mangku adat desa cupunagara
 

Pemangku Adat Bpk. Mamat Rahmat  
Bayongbong


Danau Cipabeasan

Gambar Cupunagara


Adapun kekurangan di desa Cupunagara berdasarkan orientasi wilayah yakni didapat sebagai berikut :
-       Akses jalan rusak
-       Banyak lahan yang masih kosong dan belum digunakkan
-       Jarak antar dusun yang jauh dengan topografi yang berbeda
-       Tidak adanya petunjuk arah, nama wilayah/kampung, nama tempat-tempat yang dikramatkan dan tempat-tempat penting lainya sehingga bagi orang yang awam akan merasa kebingungan jika berada di desa ini.
-       Belum adanya pemetaan dan pemanfaatan potensi desa yang bersifat intensif.
Dengan melakukan survey ke berbagai dusun, maka telah didapat bahwa dusun bukanagara dan dusun sukamulya  memiliki wilayah yang didominasi oleh Perkebunan (teh). Sementara itu dusun Ciwangun dan dusun Cibitung lebih didominasi oleh Persawahan. Masih banyaknya lahan-lahan kosong yang belum digunakan jika melihat dari perbandingan antara luas wilayah desa cupunagara keseluruhan dengan luas wilayah yang telah digunakan. Adanya perbedaan kemajuan dalam bidang pembangunan wilayah/ dusun yang memiliki luas wilayah lebih banyak perkebunan terlihat lebih maju daripada pembangunan di wilayah yang kurang perkebunan dan lebih banyak pertanian, ditambah jarak yang cukup jauh antar dusun dan dengan topografi dan ralief yang berbeda. Terdapat pabrik pengelolaan dan pengolahan Teh yakni PTPN. (Dekat dengan Dusun Bukanagara, Dusun Sukamulya), karena kedua dusun tersebut memiliki perkebunan teh ang luas, berbeda dengan dusun cimangun dan dusun cibitung.
Adapun solusi yang dapat kami berikan antara lain, Perbaiki akses jalan utama yakni dari dermaga menuju desa ini dan jalan antar dusun dan tempat-tempat penting lainnya. Pemanfaatan lahan yang masih kosong/belum digunakan dengan menanam bibit-bibit tumbuhan yang belum ada. Diadakannya angkutan umum desa sebagai penghubung antar dusun guna memperlancar akses ekonomi dan pemasaran . Melakukan pemetaan wilayah oleh aparat setempat berdasarkan potensi-potensinya. Penetapan tokoh adat dan kebudayaan karena sejauh ini belum ada pemangku adat yang secara khusus mengelola adat, seni dan kebudayaan desa cupunagara.[1]

[1] Baru ditetapkan sebagai pemangku adat desa Cupunagara pada tanggal 10 Februari 2011 oleh Sekretaris Kecamatan Bpk. Vino S,




12/13/2012

Kronologi Sejarah Sunda




Kata Sunda artinya Bagus/ Baik/ Putih/ Bersih/ Cemerlang, segala sesuatu yang mengandung unsur kebaikan, orang Sunda diyakini memiliki etos/ watak/ karakter Kasundaan sebagai jalan menuju keutamaan hidup. Watak / karakter Sunda yang dimaksud adalah cageur (sehat), bageur (baik), bener (benar), singer (mawas diri), dan pinter (pandai/ cerdas) yang sudah ada sejak jaman Salaka Nagara tahun 150 sampai ke Sumedang Larang Abad ke- 17, telah membawa kemakmuran dan kesejahteraan lebih dari 1000 tahun.
Sunda merupakan kebudayaan masyarakat yang tinggal di wilayah barat pulau Jawa dengan berjalannya waktu telah tersebar ke berbagai penjuru dunia. Sebagai suatu suku, bangsa Sunda merupakan cikal bakal berdirinya peradaban di Nusantara, di mulai dengan berdirinya kerajaan tertua di Indonesia, yakni Kerajaan Salakanagara dan Tarumanegara sampai ke Galuh, Pakuan Pajajaran, dan Sumedang Larang. Kerajaan Sunda merupakan kerajaan yang cinta damai, selama pemerintahannya tidak melakukan ekspansi untuk memperluas wilayah kekuasaannya. Keturunan Kerajaan Sunda telah melahirkan kerajaan- kerajaan besar di Nusantara diantaranya Kerajaan Sriwijaya, Kerajaan Majapahit, Kerajaan Mataram, Kerajaan Cirebon, Kerajaan Banten, dll.



Kronologi Sejarah Kerajaan Sunda

Kerajaan Sunda (669-1579 M), menurut naskah Wangsakerta merupakan kerajaan yang berdiri menggantikan kerajaan Tarumanagara. Kerajaan Sunda didirikan oleh Tarusbawa pada tahun 591 Caka Sunda (669 M). Menurut sumber sejarah primer yang berasal dari abad ke-16, kerajaan ini merupakan suatu kerajaan yang meliputi wilayah yang sekarang menjadi Provinsi Banten, Jakarta, Provinsi Jawa Barat , dan bagian barat Provinsi Jawa Tengah.
Berdasarkan naskah kuno primer Bujangga Manik (yang menceriterakan perjalanan Bujangga Manik, seorang pendeta Hindu Sunda yang mengunjungi tempat-tempat suci agama Hindu di Pulau Jawa dan Bali pada awal abad ke-16), yang saat ini disimpan pada Perpustakaan Boedlian, Oxford University, Inggris sejak tahun 1627), batas Kerajaan Sunda di sebelah timur adalah Ci Pamali ("Sungai Pamali", sekarang disebut sebagai Kali Brebes) dan Ci Serayu (yang saat ini disebut Kali Serayu) di Provinsi Jawa Tengah.


Tome Pires (1513) dalam catatan perjalanannya, Suma Oriental (1513 – 1515), menyebutkan batas wilayah Kerajaan Sunda di sebelah timur sebagai berikut: “Sementara orang menegaskan bahwa kerajaan Sunda meliputi setengah pulau Jawa. Sebagian orang lainnya berkata bahwa Kerajaan Sunda mencakup sepertiga Pulau Jawa ditambah seperdelapannya lagi. Katanya, keliling Pulau Sunda tiga ratus legoa. Ujungnya adalah Ci Manuk.'

Menurut Naskah Wangsakerta, wilayah Kerajaan Sunda mencakup juga daerah yang saat ini menjadi Provinsi Lampung melalui pernikahan antara keluarga Kerajaan Sunda dan Lampung. Lampung dipisahkan dari bagian lain kerajaan Sunda oleh Selat Sunda.

Hubungan Kerajaan Sunda dengan Eropa
Kerajaan Sunda sudah lama menjalin hubungan dagang dengan bangsa Eropa seperti Inggris, Perancis dan Portugis. Kerajaan Sunda malah pernah menjalin hubungan politik dengan bangsa Portugis. Dalam tahun 1522, Kerajaan Sunda menandatangani Perjanjian Sunda-Portugis yang membolehkan orang Portugis membangun benteng dan gudang di pelabuhan Sunda Kelapa. Sebagai imbalannya, Portugis diharuskan memberi bantuan militer kepada Kerajaan Sunda dalam menghadapi serangan dari Demak dan Cirebon (yang memisahkan diri dari Kerajaan Sunda).

Sejarah

Sebelum berdiri sebagai kerajaan yang mandiri, Sunda merupakan bagian dari Tarumanagara. Raja Tarumanagara yang terakhir, Sri Maharaja Linggawarman Atmahariwangsa Panunggalan Tirthabumi (memerintah hanya selama tiga tahun, 666-669 M), menikah dengan Déwi Ganggasari dari Indraprahasta. Dari Ganggasari, beliau memiliki dua anak, yang keduanya perempuan. Déwi Manasih, putri sulungnya, menikah dengan Tarusbawa dari Sunda, sedangkan yang kedua, Sobakancana, menikah dengan Dapuntahyang Sri Janayasa, yang selanjutnya mendirikan kerajaan Sriwijaya. Setelah Linggawarman meninggal, kekuasaan Tarumanagara turun kepada menantunya, Tarusbawa. Hal ini menyebabkan penguasa Galuh, Wretikandayun (612-702) memberontak, melepaskan diri dari Tarumanagara, serta mendirikan Galuh yang mandiri. dari pihak Tarumanagara sendiri, Tarusbawa juga menginginkan melanjutkan kerajaan Tarumanagara. Tarusbawa selanjutnya memindahkan kekuasaannya ke Sunda, di hulu sungai Cipakancilan dimana di daerah tersebut sungai Ciliwung dan sungai Cisadane berdekatan dan berjajar. Kurang lebih adalah Kotamadya Bogor saat ini. Sedangkan Tarumanagara diubah menjadi bawahannya. Beliau dinobatkan sebagai raja Sunda pada hari Radite Pon, 9 Suklapaksa, bulan Yista, tahun 519 Saka (kira-kira 18 Mei 669 M). Sunda dan Galuh ini berbatasan, dengan batas kerajaanya yaitu sungai Citarum (Sunda di sebelah barat, Galuh di sebelah timur).

Kerajaan Kembar

Putera Tarusbawa yang terbesar, Rarkyan Sundasambawa, wafat saat masih muda, meninggalkan seorang anak perempuan, Nay Sekarkancana. Cucu Tarusbawa ini lantas dinikahi oleh Rahyang Sanjaya dari Galuh, sampai mempunyai seorang putera, Rahyang Tamperan.

Ibu dari Sanjaya adalah SANAHA, cucu Ratu Shima dari Kalingga, di Jepara. Ayah dari Sanjaya adalah Bratasenawa / SENA / SANNA, Raja Galuh ketiga, teman dekat Tarusbawa.
Sena adalah cucu Wretikandayun dari putera bungsunya, Mandiminyak, raja Galuh kedua (702-709 M). Sena di tahun 716 M dikudeta dari tahta Galuh oleh PURBASORA. Purbasora dan Sena sebenarnya adalah saudara satu ibu, tapi lain ayah.

Sena dan keluarganya menyelamatkan diri ke Pakuan, pusat Kerajaan Sunda, dan meminta pertolongan pada Tarusbawa. Ironis sekali memang, Wretikandayun, kakek Sena, sebelumnya menuntut Tarusbawa untuk memisahkan Kerajaan Galuh dari Tarumanegara / Kerajaan Sunda. Dikemudian hari, Sanjaya yang merupakan penerus Kerajaan Galuh yang sah, menyerang Galuh, dengan bantuan Tarusbawa, untuk melengserkan Purbasora.

Saat Tarusbawa meninggal (tahun 723), kekuasaan Sunda dan Galuh berada di tangan Sanjaya. Di tangan Sanjaya, Sunda dan Galuh bersatu kembali.
Tahun 732 Sanjaya menyerahkan kekuasaan Sunda-Galuh ke puteranya, Tamperan / Rarkyan Panaraban. Di Kalingga, Sanjaya memegang kekuasaan selama 22 tahun (732-754), yang kemudian diganti oleh puteranya dari Déwi Sudiwara, yaitu Rarkyan Panangkaran / Rakai Panangkaran.

Rahyang Tamperan / RARKYAN PANARABAN berkuasa di Sunda-Galuh selama tujuh tahun (732-739), lalu membagi kekuasaan pada dua puteranya: Sang Manarah (dalam carita rakyat disebut Ciung Wanara) di Galuh serta Sang Banga (Hariang Banga) di Sunda.

Sang Banga (Prabhu Kertabhuwana Yasawiguna Hajimulya) menjadi raja selama 27 tahun (739-766), tapi hanya menguasai Sunda dari tahun 759. Dari Déwi Kancanasari, keturunan Demunawan dari Saunggalah, Sang Banga mempunyai putera, bernama Rarkyan Medang, yang kemudian meneruskan kekuasaanya di Sunda selama 17 tahun (766-783) dengan gelar Prabhu Hulukujang.

Karena anaknya perempuan, Rakryan Medang mewariskan kekuasaanya kepada menantunya, Rakryan Hujungkulon atau Prabhu Gilingwesi (dari Galuh, putera Sang Mansiri), yang menguasai Sunda selama 12 tahun (783-795).

Karena Rakryan Hujungkulon inipun hanya mempunyai anak perempuan, maka kekuasaan Sunda lantas jatuh ke menantunya, Rakryan Diwus (dengan gelar Prabu Pucukbhumi Dharmeswara) yang berkuasa selama 24 tahun (795-819).

Dari Rakryan Diwus, kekuasaan Sunda jatuh ke puteranya, Rakryan Wuwus, yang menikah dengan putera dari Sang Welengan (raja Galuh, 806-813). Kekuasaan Galuh juga jatuh kepadanya saat saudara iparnya, Sang Prabhu Linggabhumi (813-842), meninggal dunia. Kekuasaan Sunda-Galuh dipegang oleh RAKRYAN WUWUS (dengan gelar Prabhu Gajahkulon) sampai ia wafat tahun 891.

Sepeninggal Rakryan Wuwus, kekuasaan Sunda-Galuh jatuh ke adik iparnya dari Galuh, Arya Kadatwan. Hanya saja, karena tidak disukai oleh para pembesar dari Sunda, ia dibunuh tahun 895, sedangkan kekuasaannya diturunkan ke putranya, Rakryan Windusakti.

Kekuasaan ini lantas diturunkan pada putera sulungnya, Rakryan Kamuninggading (913). RAKRYAN KAMUNINGGADING menguasai Sunda-Galuh hanya tiga tahun, sebab kemudian direbut oleh adiknya, Rakryan Jayagiri (916).

RAKRYAN JAYAGIRI berkuasa selama 28 tahun, kemudian diwariskan kepada menantunya, Rakryan Watuagung, tahun 942.

Melanjutkan dendam orangtuanya, Rakryan Watuagung direbut kekuasaannya oleh keponakannya (putera Kamuninggading), Sang Limburkancana (954-964).

Dari Limburkancana, kekuasaan Sunda-Galuh diwariskan oleh putera sulungnya, Rakryan Sundasambawa (964-973). Karena tidak mempunyai putera dari Sundasambawa, kekuasaan tersebut jatuh ke adik iparnya, Rakryan Jayagiri (973-989).

Rakryan Jayagiri mewariskan kekuasaannya ka puteranya, Rakryan Gendang (989-1012), dilanjutkan oleh cucunya, Prabhu Déwasanghyang (1012-1019). Dari Déwasanghyang, kekuasaan diwariskan kepada puteranya, lalu ke cucunya yang membuat prasasti Cibadak, Sri Jayabhupati (1030-1042). Sri Jayabhupati adalah menantu dari Dharmawangsa Teguh dari Jawa Timur, mertua raja Erlangga (1019-1042).

Dari Sri Jayabhupati, kekuasaan diwariskan kepada putranya, Dharmaraja (1042-1064), lalu ke cucu menantunya, Prabhu Langlangbhumi ((1064-1154). Prabu Langlangbhumi dilanjutkan oleh putranya, Rakryan Jayagiri (1154-1156), lantas oleh cucunya, Prabhu Dharmakusuma (1156-1175). Dari Prabu Dharmakusuma, kekuasaan Sunda-Galuh diwariskan kepada putranya, Prabhu Guru Dharmasiksa, yang memerintah selama 122 tahun (1175-1297). Dharmasiksa memimpin Sunda-Galuh dari Saunggalah selama 12 tahun, tapi kemudian memindahkan pusat pemerintahan kepada Pakuan Pajajaran, kembali lagi ke tempat awal moyangnya (Tarusbawa) memimpin kerajaan Sunda.

Sepeninggal Dharmasiksa, kekuasaan Sunda-Galuh turun ke putranya yang terbesar, Rakryan Saunggalah (Prabhu Ragasuci), yang berkuasa selama enam tahun (1297-1303). Prabhu Ragasuci kemudian diganti oleh putranya, Prabhu Citraganda, yang berkuasa selama delapan tahun(1303-1311), kemudian oleh keturunannya lagi, Prabu Linggadéwata (1311-1333). Karena hanya mempunyai anak perempuan, Linggadéwata menurunkan kekuasaannya ke menantunya, Prabu Ajiguna Linggawisésa (1333-1340), kemudian ke Prabu Ragamulya Luhurprabawa (1340-1350). Dari Prabu Ragamulya, kekuasaan diwariskan ke putranya, Prabu Maharaja Linggabuanawisésa (1350-1357), yang di ujung kekuasaannya gugur di Bubat (baca Perang Bubat). Karena saat kejadian di Bubat, putranya -- Niskalawastukancana -- masih kecil, kekuasaan Sunda sementara dipegang oleh Patih Mangkubumi Sang Prabu Bunisora (1357-1371).

Prasasti Kawali di Kabuyutan Astana Gedé, Kawali, Ciamis.
Sapeninggal Prabu Bunisora, kekuasaan kembali lagi ke putra Linggabuana, Niskalawastukancana, yang kemudian memimpin selama 104 tahun (1371-1475). Dari isteri pertama, Nay Ratna Sarkati, ia mempunyai putera Sang Haliwungan (Prabu Susuktunggal), yang diberi kekuasaan bawahan di daerah sebelah barat Citarum (daerah asal Sunda). Prabu Susuktunggal yang berkuasa dari Pakuan Pajajaran, membangun pusat pemerintahan ini dengan mendirikan keraton Sri Bima Punta Narayana Madura Suradipati. Pemerintahannya terbilang lama (1382-1482), sebab sudah dimulai saat ayahnya masih berkuasa di daerah timur.

Dari Nay Ratna Mayangsari, istrinya yang kedua, ia mempunyai putera Ningratkancana (Prabu Déwaniskala), yang meneruskan kekuasaan ayahnya di daerah Galuh (1475-1482).

Susuktunggal dan Ningratkancana menyatukan ahli warisnya dengan menikahkan Jayadéwata (putra Ningratkancana) dengan Ambetkasih (putra Susuktunggal). Tahun 1482, kekuasaan Sunda dan Galuh disatukan lagi oleh Jayadéwata (yang bergelar Sri Baduga Maharaja). Sapeninggal Jayadéwata, kekuasaan Sunda-Galuh turun ke putranya, Prabu Surawisésa (1521-1535), kemudian Prabu Déwatabuanawisésa (1535-1543), Prabu Sakti (1543-1551), Prabu Nilakéndra (1551-1567), serta Prabu Ragamulya atau Prabu Suryakancana (1567-1579). Prabu Suryakancana ini merupakan pemimpin kerajaan Sunda-Galuh yang terakhir, sebab setelah beberapa kali diserang oleh pasukan Maulana Yusuf dari Kesultanan Banten, kerajaan Sunda lainnya, di tahun 1579, yang mengalibatkan kekuasaan Prabu Surya Kancana dan Kerajaan Pajajaran runtuh.
Sebelum Kerajaan Pajajaran runtuh Prabu Surya Kancana memerintahkan ke empat patihnya untuk membawa mahkota kerajaan beserta anggota kerajaan ke Sumedang Larang yang sama- sama merupakan keturunan Kerajaan Sunda untuk meneruskan pemerintahan.

Kerajaan Sumedang Larang berasal dari pecahan kerajaan Sunda-Galuh yang beragama Hindu, yang didirikan oleh Prabu Geusan Ulun Aji Putih atas perintah Prabu Suryadewata sebelum Keraton Galuh dipindahkan ke Pajajaran, Bogor. Seiring dengan perubahan zaman dan kepemimpinan, nama Sumedang mengalami beberapa perubahan. Yang pertama yaitu Kerajaan Tembong Agung yang berlokasi di Desa Cipaku Kecamatan Darmaraja (Tembong artinya nampak dan Agung artinya luhur, memperlihatkan ke Agungan Yang Maha Kuasa) dipimpin oleh Prabu Guru Aji Putih pada abad ke XII. Prabu Guru Aji Putih memiliki putra yang bernama Prabu Tajimalela dan kemudian pada masa zaman Prabu Tajimalela, diganti menjadi Himbar Buana, yang berarti menerangi alam, Prabu Tajimalela pernah berkata “Insun medal; Insun madangan”. Artinya Aku dilahirkan; Aku menerangi. Kata Sumedang diambil dari kata Insun Madangan yang berubah pengucapannya menjadi Sun Madang yang selanjutnya menjadi Sumedang. Ada juga yang berpendapat berasal dari kata Insun Medal yang berubah pengucapannya menjadi Sumedang dan Larang berarti sesuatu yang tidak ada tandingnya.

Pemerintahan berdaulat

Prabu Agung Resi Cakrabuana (950 M)
Prabu Agung Resi Cakrabuana atau lebih dikenal Prabu Tajimalela dianggap sebagai pokok berdirinya Kerajaan Sumedang. Pada awal berdiri bernama Kerajaan Tembong Agung dengan ibukota di Leuwihideung (sekarang Kecamatan Darmaraja). Beliau punya tiga putra yaitu Prabu Lembu Agung, Prabu Gajah Agung, dan Sunan Geusan Ulun.

Berdasarkan Layang Darmaraja, Prabu Tajimalela memberi perintah kepada kedua putranya (Prabu Lembu Agung dan Prabu Gajah Agung), yang satu menjadi raja dan yang lain menjadi wakilnya (patih). Tapi keduanya tidak bersedia menjadi raja. Oleh karena itu, Prabu Tajimalela memberi ujian kepada kedua putranya jika kalah harus menjadi raja. Kedua putranya diperintahkan pergi ke Gunung Nurmala (sekarang Gunung Sangkanjaya). Keduanya diberi perintah harus menjaga sebilah pedang dan kelapa muda (duwegan/degan). Tetapi, Prabu Gajah Agung karena sangat kehausan beliau membelah dan meminum air kelapa muda tersebut sehingga beliau dinyatakan kalah dan harus menjadi raja Kerajaan Sumedang Larang tetapi wilayah ibu kota harus mencari sendiri. Sedangkan Prabu Lembu Agung tetap di Leuwihideung, menjadi raja sementara yang biasa disebut juga Prabu Lembu Peteng Aji untuk sekedar memenuhi wasiat Prabu Tajimalela. Setelah itu Kerajaan Sumedang Larang diserahkan kepada Prabu Gajah Agung dan Prabu Lembu Agung menjadi resi. Prabu Lembu Agung dan pera keturunannya tetap berada di Darmaraja. Sedangkan Sunan Geusan Ulun dan keturunannya tersebar di Limbangan, Karawang, dan Brebes.

Setelah Prabu Gajah Agung menjadi raja maka kerajaan dipindahkan ke Ciguling. Ia dimakamkan di Cicanting Kecamatan Darmaraja. Ia mempunyai dua orang putra, pertama Ratu Istri Rajamantri, menikah dengan Prabu Siliwangi dan mengikuti suaminya pindah ke Pakuan Pajajaran. Kedua Sunan Guling, yang melanjutkan menjadi raja di Kerajaan Sumedang Larang. Setelah Sunan Guling meninggal kemudian dilanjutkan oleh putra tunggalnya yaitu Sunan Tuakan. Setelah itu kerajaan dipimpin oleh putrinya yaitu Nyi Mas Ratu Patuakan. Nyi Mas Ratu Patuakan mempunyai suami yaitu Sunan Corenda, putra Sunan Parung, cucu Prabu Siliwangi (Prabu Ratu Dewata). Nyi Mas Ratu Patuakan mempunyai seorang putri bernama Nyi Mas Ratu Inten Dewata (1530-1578), yang setelah ia meninggal menggantikannya menjadi ratu dengan gelar Ratu Pucuk Umun.

Ratu Pucuk Umun menikah dengan Pangeran Santri, julukan Pangeran Santri karena asalnya yang dari pesantren dan perilakunya yang sangat alim. Dengan pernikahan tersebut berakhirlah masa kerajaan Hindu di Sumedang Larang. Sejak itulah mulai menyebarnya agama Islam di wilayah Sumedang Larang.

Ratu Pucuk Umun dan Pangeran Santri
Pada pertengahan abad ke-16, mulailah corak agama Islam mewarnai perkembangan Sumedang Larang. Ratu Pucuk Umun, seorang wanita keturunan raja-raja Sumedang kuno yang merupakan seorang Sunda muslimah; menikahi Pangeran Santri (1505-1579 M) yang bergelar Ki Gedeng Sumedang dan memerintah Sumedang Larang bersama-sama serta menyebarkan ajaran Islam di wilayah tersebut. Pangeran Santri adalah cucu dari Syekh Maulana Abdurahman (Sunan Panjunan) dan cicit dari Syekh Datuk Kahfi, seorang ulama keturunan Arab Hadramaut yang berasal dari Mekkah dan menyebarkan agama Islam di berbagai penjuru daerah di kerajaan Sunda. Pernikahan Pangeran Santri dan Ratu Pucuk Umun ini melahirkan Prabu Geusan Ulun atau dikenal dengan Prabu Angkawijaya. Pada masa Ratu Pucuk Umun, ibukota Kerajaan Sumedang Larang dipindahkan dari Ciguling ke Kutamaya.

Prabu Geusan Ulun
Prabu Geusan Ulun (1580-1608 M) dinobatkan untuk menggantikan kekuasaan ayahnya, Pangeran Santri. Beliau menetapkan Kutamaya sebagai ibukota kerajaan Sumedang Larang, yang letaknya di bagian Barat kota. Wilayah kekuasaannya meliputi Kuningan, Bandung, Garut, Tasik, Sukabumi (Priangan) kecuali Galuh (Ciamis). Kerajaan Sumedang pada masa Prabu Geusan Ulun mengalami kemajuan yang pesat di bidang sosial, budaya, agama, militer dan politik pemerintahan. Setelah wafat pada tahun 1608, putera angkatnya, Pangeran Rangga Gempol Kusumadinata atau Rangga Gempol I, yang dikenal dengan nama Raden Aria Suradiwangsa menggantikan kepemimpinannya.

Pada masa awal pemerintahan Prabu Geusan Ulun, Kerajaan Pajajaran Galuh Pakuan sedang dalam masa kehancurannya karena diserang oleh Kerajaan Banten yang dipimpin Sultan Maulana Yusuf dalam rangka menyebarkan Agama Islam. Oleh karena penyerangan itu Kerajaan Pajajaran hancur. Pada saat-saat kekalahan Kerajaan Pajajaran, Prabu Siliwangi sebelum meninggalkan Keraton beliau mengutus empat prajurit pilihan tangan kanan Prabu Siliwangi untuk pergi ke Kerajaan Sumedang dengan rakyat Pajajaran untuk mencari perlindungan yang disebut Kandaga Lante. Kandaga Lante tersebut menyerahkan mahkota emas simbol kekuasaan Raja Pajajaran, kalung bersusun dua dan tiga, serta perhiasan lainnya seperti benten, siger, tampekan, dan kilat bahu (pusaka tersebut masih tersimpan di Museum Prabu Geusan Ulun si Sumedang). Kandaga Lante yang menyerahkan tersebut empat orang yaitu Sanghyang Hawu atau Embah Jayaperkosa, Batara Dipati Wiradijaya atau Embah Nangganan, Sanghyang Kondanghapa, dan Batara Pancar Buana atau Embah Terong Peot.

Walaupun pada waktu itu tempat penobatan raja direbut oleh pasukan Banten (wadyabala Banten) tetapi mahkota kerajaan terselamatkan. Dengan diberikannya mahkota tersebut kepada Prabu Geusan Ulun, maka dapat dianggap bahwa Kerajaan Pajajaran Galuh Pakuan menjadi bagian Kerajaan Sumedang Larang, sehingga wilayah Kerajaan Sumedang Larang menjadi luas. Batas wilayah baratnya Sungai Cisadane, batas wilayah timurnya Sungai Cipamali (kecuali Cirebon dan Jayakarta), batas sebelah utaranya Laut Jawa, dan batas sebelah selatannya Samudera Hindia.

Secara politik Kerajaan Sumedang Larang didesak oleh tiga musuh: yaitu Kerajaan Banten yang merasa terhina dan tidak menerima dengan pengangkatan Prabu Geusan Ulun sebagai pengganti Prabu Siliwangi; pasukan VOC di Jayakarta yang selalu mengganggu rakyat; dan Kesultanan Cirebon yang ditakutkan bergabung dengan Kesultanan Banten. Pada masa itu Kesultanan Mataram sedang pada masa kejayaannya, banyak kerajaan-kerajaan kecil di Nusantara yang menyatakan bergabung kepada Mataram. Dengan tujuan politik pula akhirnya Prabu Geusan Ulun menyatakan bergabung dengan Kesultanan Mataram. Prabu Geusan Ulun merupakan raja terakhir Kerajaan Sumedang Larang, karena selanjutnya menjadi bagian Mataram dan pangkat raja turun menjadi adipati (bupati).

Raja-raja Kerajaan Sunda dari Salaka Nagara s/d Sumedang Larang
Di bawah ini deretan raja-raja yang pernah memimpin Kerajaan Sunda menurut naskah Pangéran Wangsakerta (waktu berkuasa dalam tahun Masehi):
Periode Salaka Nagara dan Taruma Nagara (Dewawarman - Linggawarman, 150 - 669).
0. Dewawarman I - VIII, 150 - 362
1. Jayasingawarman, 358-382
2. Dharmayawarman, 382-395
3. Purnawarman, 395-434
4. Wisnuwarman, 434-455
5. Indrawarman, 455-515
6. Candrawarman, 515-535
7. Suryawarman, 535-561
8. Kertawarman, 561-628
9. Sudhawarman, 628-639
10. Hariwangsawarman, 639-640
11. Nagajayawarman, 640-666
12. Linggawarman, 666-669

Periode Kerajaan Galuh - Pakuan - Pajajaran - Sumedang Larang
1. Tarusbawa (menantu Linggawarman, 669 - 723)
2. Harisdarma, atawa Sanjaya (menantu Tarusbawa, 723 - 732)
3. Tamperan Barmawijaya (732 - 739)
4. Rakeyan Banga (739 - 766)
5. Rakeyan Medang Prabu Hulukujang (766 - 783)
6. Prabu Gilingwesi (menantu Rakeyan Medang Prabu Hulukujang, 783 - 795)
7. Pucukbumi Darmeswara (menantu Prabu Gilingwesi, 795 - 819)
8. Rakeyan Wuwus Prabu Gajah Kulon (819 - 891)
9. Prabu Darmaraksa (adik ipar Rakeyan Wuwus, 891 - 895)
10. Windusakti Prabu Déwageng (895 - 913)
11. Rakeyan Kamuning Gading Prabu Pucukwesi (913 - 916)
12. Rakeyan Jayagiri (menantu Rakeyan Kamuning Gading, 916 - 942)
13. Atmayadarma Hariwangsa (942 - 954)
14. Limbur Kancana (putera Rakeyan Kamuning Gading, 954 - 964)
15. Munding Ganawirya (964 - 973)
16. Rakeyan Wulung Gadung (973 - 989)
17. Brajawisésa (989 - 1012)
18. Déwa Sanghyang (1012 - 1019)
19. Sanghyang Ageng (1019 - 1030)
20. Sri Jayabupati (Detya Maharaja, 1030 - 1042)
21. Darmaraja (Sang Mokténg Winduraja, 1042 - 1065)
22. Langlangbumi (Sang Mokténg Kerta, 1065 - 1155)
23. Rakeyan Jayagiri Prabu Ménakluhur (1155 - 1157)
24. Darmakusuma (Sang Mokténg Winduraja, 1157 - 1175)
25. Darmasiksa Prabu Sanghyang Wisnu (1175 - 1297)
26. Ragasuci (Sang Mokténg Taman, 1297 - 1303)
27. Citraganda (Sang Mokténg Tanjung, 1303 - 1311)
28. Prabu Linggadéwata (1311-1333)
29. Prabu Ajiguna Linggawisésa (1333-1340)
30. Prabu Ragamulya Luhurprabawa (1340-1350)
31. Prabu Maharaja Linggabuanawisésa (yang gugur dalam Perang Bubat, 1350-1357)
32. Prabu Bunisora (1357-1371)
33. Prabu Niskalawastukancana (1371-1475)
34. Prabu Susuktunggal (1475-1482)
35. Prabu Jayadéwata (Sri Baduga Maharaja, 1482-1521)
36. Prabu Surawisésa (1521-1535)
37. Prabu Déwatabuanawisésa (1535-1543)
38. Prabu Sakti (1543-1551)
39. Prabu Nilakéndra (1551-1567)
40. Prabu Ragamulya atau Prabu Suryakancana (1567-1579)
41. Prabu Geusan Ulun (1580-1608 M)
Sumber:
- Herwig Zahorka, The Sunda Kingdoms of West Java, From Taruma Nagara to Pakuan Pajajaran with Royal Center of Bogor, tahun 2007.
- Saleh Danasasmita, Sajarah Bogor, Tahun 2000
- Ayatrohaedi: Sundakala, Cuplikan Sejarah Sunda Berdasar Naskah-naskah "Panitia Wangsakerta" Cirebon. Pustaka Jaya, 2005.
- Aca. 1968. Carita Parahiyangan: naskah titilar karuhun urang Sunda abad ka-16 Maséhi. Yayasan Kabudayaan Nusalarang, Bandung.
- Edi S. Ekajati. 2005. Polemik Naskah Pangeran Wangsakerta. Pustaka Jaya, Jakarta. ISBN 979-419-329-1
- Yoséph Iskandar. 1997. Sejarah Jawa Barat: yuganing rajakawasa. Geger Sunten, Bandung.