12/14/2012

LABRI SUBANG: Kronologi Sejarah Sunda

LABRI SUBANG: Kronologi Sejarah Sunda: Kata Sunda artinya Bagus/ Baik/ Putih/ Bersih/ Cemerlang, segala sesuatu yang mengandung unsur kebaikan, orang Sunda diyakini memili...

Ciung Wanara

Ciung Wanara adalah legenda di kalangan orang Sunda di Indonesia. Cerita rakyat ini menceritakan legenda Kerajaan Sunda Galuh, asal muasal nama Sungai Pamali serta menggambarkan hubungan budaya antara orang Sunda dan Jawa yang tinggal di bagian barat provinsi Jawa Tengah.
Cerita ini berasal dari tradisi cerita lisan Sunda yang disebut Pantun Sunda, yang kemudian dituliskan ke dalam buku yang ditulis oleh beberapa penulis Sunda, baik dalam bahasa Sunda dan bahasa Indonesia.
Ringkasan
Turunnya sang raja
Dahulu berdirilah sebuah kerajaan besar di pulau Jawa yang disebut Kerajaan Galuh, ibukotanya terletak di Galuh dekat Ciamis sekarang. Dipercaya bahwa pada saat itu kerajaan Galuh membentang dari Hujung Kulon, ujung Barat Jawa, sampai ke Hujung Galuh ("Ujung Galuh"), yang saat ini adalah muara dari Sungai Brantas di dekat Surabaya sekarang. Kerajaan ini diperintah oleh Raja Prabu Permana Di Kusumah. Setelah memerintah dalam waktu yang lama Raja memutuskan untuk menjadi seorang pertapa dan karena itu ia memanggil menteri Aria Kebonan ke istana. Selain itu, Aria Kebonan juga telah datang kepada raja untuk membawa laporan tentang kerajaan. Sementara ia menunggu di depan pendapa, ia melihat pelayan sibuk mondar-mandir, mengatur segalanya untuk raja. Menteri itu berpikir betapa senangnya akan menjadi raja. Setiap perintah dipatuhi, setiap keinginan terpenuhi. Karena itu ia pun ingin menjadi raja.
Saat ia sedang melamun di sana, raja memanggilnya.

"Aria Kebonan, apakah benar bahwa Engkau ingin menjadi raja?" Raja tahu itu karena ia diberkahi dengan kekuatan supranatural.
"Tidak, Yang Mulia, aku tidak akan bisa."
"Jangan berbohong, Aria Kebonan, aku tahu itu."
"Maaf, Yang Mulia, Saya baru saja memikirkannya." "Yah, Aku akan membuat engkau menjadi raja Selama Aku pergi untuk bermeditasi, Engkau akan menjadi raja dan memerintah dengan benar.. Engkau tidak akan memperlakukan (tidur dengan) kedua istriku, Dewi Pangrenyep dan Dewi Naganingrum sebagai istrimu."
"Baiklah, Yang Mulia."
"Aku akan mengubah penampilanmu menjadi seorang pria tampan. Nama Anda akan Prabu Barma Wijaya.. Beritahulah pada orang-orang bahwa raja telah menjadi muda dan Aku sendiri akan pergi ke suatu tempat rahasia. Dengan demikian engkau akan menjadi raja!"

Pada saat penampilan Aria Kebonan menyerupai Prabu Permana di Kusumah itu, tapi tampak sepuluh tahun lebih muda. Orang percaya pengumuman bahwa ia adalah Raja Prabu Permana Di Kusumah yang telah menjadi sepuluh tahun lebih muda dan mengubah namanya menjadi Prabu Barma Wijaya. Hanya satu orang tidak percaya ceritanya. Ia adalah Uwa Batara lengser yang mengetahui perjanjian antara raja dan menteri tersebut. Prabu Barma Wijaya menjadi bangga dan mempermalukan Uwa Batara lengser yang tidak dapat melakukan apa-apa. Dia juga memperlakukan kedua ratu dengan kasar. Keduanya menghindarinya, kecuali di depan umum ketika mereka berperilaku seolah-olah mereka istri Prabu Barma Wijaya.

Kelahiran dua pangeran
Suatu malam kedua ratu bermimpi bahwa bulan jatuh di atas mereka. Mereka melaporkan hal itu kepada raja yang membuatnya ketakutan, karena mimpi tersebut biasanya peringatan bagi wanita yang akan hamil. Hal ini tidak mungkin karena ia tidak bersalah memperlakukan kedua ratu sebagai istri-istrinya. Uwa Batara lengser muncul dan mengusulkan untuk mengundang seorang pertapa baru, yang disebut Ajar Sukaresi - yang tidak lain adalah Raja Prabu Permana Di Kusumah - untuk menjelaskan mimpi yang aneh tersebut. Prabu Barma Wijaya setuju, dan begitu pertapa tiba di istana ia ditanya oleh raja tentang arti mimpi itu.
"Kedua ratu mengharapkan seorang anak, Yang Mulia." Meskipun terkejut dengan jawabannya, Prabu Barma Wijaya masih bisa mengendalikan diri. Ingin tahu seberapa jauh pertapa berani berbohong kepada dia, dia mengajukan pertanyaan lain. "Apakah mereka akan anak perempuan atau anak laki-laki?"
"Keduanya anak laki-laki, Yang Mulia." Pada hal ini raja tidak bisa lagi menahan diri, mengambil kerisnya dan menusuk Ajar Sukaresi agar dia mati namun Dia gagal. Keris itu bengkok.
"Apakah Raja berkehendak aku mati? Bila begitu, saya akan mati." Kemudian pertapa itu jatuh. Raja menendang mayatnya begitu hebat sehingga terlempar ke dalam hutan di mana ia berubah menjadi seekor naga besar, yang disebut Nagawiru. Di keraton, sesuatu yang aneh terjadi. Kedua ratu memang hamil. Setelah beberapa waktu Dewi Pangrenyep melahirkan seorang putra yang bernama Hariang Banga.
Suatu hari ketika Prabu Barma Wijaya mengunjungi Dewi Naganingrum, secara ajaib janin dalam kandungan Naganingrum yang belum lahir tersebut berbicara: "Barma Wijaya, Engkau telah melupakan banyak janjimu. Semakin banyak Anda melakukan hal-hal kejam, kekuasaan Anda akan semakin pendek.."

Rencana jahat
Peristiwa aneh janin yang dapat berbicara tersebut membuat Raja sangat marah dan takut terhadap ancaman janin tersebut. Dia ingin menyingkirkan janin itu dan segera menemukan cara untuk melakukannya. Dia meminta bantuan Dewi Pangrenyep untuk dapat terlepas dari bayi Dewi Naganingrum yang akan lahir sebagai bajingan menurut impiannya. Dia tidak akan cocok untuk menjadi penguasa negeri ini bersama-sama dengan Hariang Banga, putra Dewi Pangrenyep. Ratu percaya hal tersebut dan setuju, tapi apa yang harus dilakukan? "Kita akan menukar bayi tersebut dengan anjing dan melemparkannya ke sungai Citanduy."

Sebelum melahirkan, Dewi Pangrenyep menghimbau Dewi Naganingrum untuk menutupi matanya dengan malam (lilin) yang biasanya digunakan untuk membatik. Dia berpendapat bahwa perlakuan ini adalah untuk menghindarkan ibu yang sedang melahirkan agar tidak melihat terlalu banyak darah yang mungkin dapat membuat dia pingsan. Naganingrum setuju dan Pangrenyep pun menutup mata Dewi Naganingrum dengan lilin, berpura-pura membantu ratu malang tersebut. Naganingrum tidak menyadari apa yang terjadi, bayi yang baru lahir itu dimasukkan ke dalam keranjang dan dilemparkan ke dalam Sungai Citanduy, setelah ditukar dengan bayi anjing yang dibaringkan di pangkuan sang ibu yang tidak curiga akan perbuatan jahat tersebut.

Ratu Naganingrum segera menyadari bahwa ia tengah menggendong seekor bayi anjing, ia sangat terkejut dan jatuh sedih. Kedua pelaku kejahatan berusaha menyingkirkan Dewi Naganingrum dari istana dengan mengatakan kebohongan kepada rakyat, tapi tidak ada yang percaya kepada mereka. Bahkan Uwa Batara lengser tak dapat melakukan apa-apa karena Raja serta Ratu Dewi Pangrenyep sangat berkuasa. Barma Wijaya bahkan memerintahkan hukuman mati atas Dewi Naganingrum karena dia telah melahirkan seekor anjing, yang dianggap sebagai kutukan dari para dewa dan aib bagi kerajaan. Uwa Batara lengser mendapat perintah untuk melaksanakan eksekusi tersebut. Dia membawa ratu yang malang ke hutan, namun dia tak sampai hati membunuhnya, ia bahkan membangunkan sebuah gubuk yang baik untuknya. Untuk meyakinkan Raja dan Ratu Pangrenyep bahwa ia telah melakukan perintah mereka, ia menunjukkan kepada mereka pakaian Dewi Naganingrum yang berlumuran darah.

Sabung ayam
Di desa Geger Sunten, tepian sungai Citanduy, hiduplah sepasang suami istri tua yang biasa memasang bubu keramba perangkap ikan yang terbuat dari bambu di sungai untuk menangkap ikan. Suatu pagi mereka pergi ke sungai untuk mengambil ikan yang terperangkap di dalam bubu, dan sangat terkejut bukannya menemukan ikan melainkan keranjang yang tersangkut pada bubu tersebut. Setelah membukanya, mereka menemukan bayi yang menggemaskan. Mereka membawa pulang bayi tersebut, merawatnya dan menyayanginya seperti anak mereka sendiri.

Dengan berlalunya waktu bayi tumbuh menjadi seorang pemuda rupawan yang menemani berburu orang tua dalam hutan. Suatu hari mereka melihat seekor burung dan monyet.
"Burung dan monyet apakah itu, Ayah?"
"Burung itu disebut Ciung dan monyet itu adalah Wanara, anakku."
"Kalau begitu, panggillah aku Ciung Wanara." Orang tua itu menyetujui karena arti kedua kata tersebut cocok dengan karakter anak itu.

Suatu hari ia bertanya pada orang tuanya mengapa dia berbeda dengan anak laki-laki lain dari desa tersebut dan mengapa mereka sangat menghormatinya. Kemudian orang tua itu mengatakan kepadanya bahwa ia telah terbawa arus sungai ke desat tersebut dalam sebuah keranjang dan bukan anak dari desa tersebut.
"Orangtuamu pasti bangsawan dari Galuh."
"Kalau begitu, aku harus pergi ke sana di mencari orang tua kandungku, Ayah."
"Itu benar, tetapi kamu harus pergi dengan seorang teman. Di keranjang itu ada telur. Ambillah, pergilah ke hutan dan carilah unggas untuk menetaskan telur itu."

Ciung Wanara mengambil telur itu, pergi ke hutan seperti yang diperintahkan oleh sang orang tua, tetapi ia tidak dapat menemukan unggas. Ia menemukan Nagawiru yang baik kepada dia dan yang menawarkan dia untuk menetas telur. Dia meletakkan telur di bawah naga itu dan taklama setelah menetas, anak ayam tumbuh dengan cepat. Ciung Wanara memasukkannya ke dalam keranjang, meninggalkan orang tua dan istrinya dan memulai perjalanannya ke Galuh.

Di ibukota Galuh, sabung ayam adalah sebuah acara olahraga besar, baik raja dan rakyatnya menyukainya. Raja Barma Wijaya memiliki ayam jago yang besar dan tak terkalahkan bernama Si Jeling. Dalam kesombongannya, ia menyatakan bahwa ia akan mengabulkan keinginan apapun kepada pemilik ayam yang bisa mengalahkan ayam juaranya.

Saat tiba, anak ayam Ciung Wanara sudah tumbuh menjadi ayam petarung yang kuat. Sementara Ciung Wanara sedang mencari pemilik keranjang, ia ikut ambil bagian dalam turnamen adu ayam kerajaan. Ayamnya tidak pernah kalah. Kabar tentang anak muda yang ayam jantannya selalu menang di sabung ayam akhirnya mencapai telinga Prabu Barma Wijaya yang kemudian memerintahkan Uwa Batara lengser untuk menemukan pemuda itu. Orang tua itu segera menyadari bahwa pemuda pemilik ayam itu adalah putra Dewi Naganingrum yang telah lama hilang, terutama ketika Ciung Wanara menunjukkan padanya keranjang di mana ia telah dihanyutkan ke sungai. Uwa Batara Lengser mengatakan pada Ciung Wanara bahwa raja telah memerintahkan hal tersebut selain menuduh ibunya telah melahirkan seekor anjing.
"Jika ayam kamu menang melawan ayam raja, mintalah saja kepadanya setengah dari kerajaan sebagai hadiah kemenangan kamu."

Keesokan paginya Ciung Wanara muncul di depan Prabu Barma Wijaya dan menceritakan apa yang telah diusulkan Lengser. Raja setuju karena dia yakin akan kemenangan ayam jantannya yang disebut Si Jeling. Si Jeling sedikit lebih besar dari ayam jago Ciung Wanara, namun ayam Ciung Wanara lebih kuat karena dierami oleh naga Nagawiru. Dalam pertarungan berdarah ini, ayam sang Raja kehilangan nyawanya dalam pertarungan dan raja terpaksa memenuhi janjinya untuk memberikan Ciung Wanara setengah dari kerajaannya.

Perang saudara
Ciung Wanara menjadi raja dari setengah kerajaan dan membangun penjara besi yang dibangun untuk mengurung orang-orang jahat. Ciung Wanara merencanakan siasat untuk menghukum Prabu Barma Jaya dan Dewi Pangrenyep. Suatu hari Prabu Barma Jaya dan Dewi Pangrenyep diundang oleh Ciung Wanara untuk datang dan memeriksa penjara yang baru dibangun. Ketika mereka berada di dalam, Ciung Wanara menutup pintu dan mengunci mereka di dalam. Dia kemudian memberitahu orang-orang di kerajaan tentang perbuatan jahat Barma dan Pangrenyep, orang-orang pun bersorak.

Namun, Hariang Banga, putera Dewi Pangrenyep, menjadi sedih mengetahui tentang penangkapan ibunya. Ia menyusun rencana pemberontakan, mengumpulkan banyak tentara dan memimpin perang melawan adiknya. Dalam pertempuran, ia menyerang Ciung Wanara dan para pengikutnya. Ciung Wanara dan Hariang Banga adalah pangeran yang kuat dan berkeahlian tinggi dalam seni bela diri pencak silat. Namun Ciung Wanara berhasil mendorong Hariang Banga ke tepian Sungai Brebes. Pertempuran terus berlangsung tanpa ada yang menang. Tiba-tiba muncullah Raja Prabu Permana Di Kusumah didampingi oleh Ratu Dewi Naganingrum dan Uwa Batara lengser.

"Hariang Banga dan Ciung Wanara!" kata Raja, "Hentikan pertempuran ini adalah pamali ("tabu" atau "dilarang" dalam bahasa Sunda dan Jawa) - berperang melawan saudara sendiri. Kalian adalah saudara, kalian berdua adalah anak-anakku yang akan memerintah di negeri ini, Ciung Wanara di Galuh dan Hariang Banga di timur sungai Brebes, negara baru. Semoga sungai ini menjadi batas dan mengubah namanya dari Sungai Brebes menjadi Sungai pamali untuk mengingatkan kalian berdua bahwa adalah pamali untuk memerangi saudara sendiri. Biarlah Dewi Pangrenyep dan Barma Wijaya yang dahulu adalah Aria Kebonan dipenjara karena dosa mereka." Sejak itu nama sungai ini dikenal sebagai Cipamali (Bahasa Sunda) atau Kali Pemali (Bahasa Jawa) yang berarti "Sungai Pamali".

Hariang Banga pindah ke timur dan dikenal sebagai Jaka Susuruh. Dia mendirikan kerajaan Jawa dan menjadi raja Jawa, dan pengikutnya yang setia menjadi nenek moyang orang Jawa. Ciung Wanara memerintah kerajaan Galuh dengan adil, rakyatnya adalah orang Sunda, sejak itu Galuh dan Jawa makmur lagi seperti pada zaman Prabu Permana Di Kusumah. Saat kembali menuju ke barat, Ciung Wanara menyanyikan legenda ini dalam bentuk Pantun Sunda, sementara kakaknya menuju ke timur dengan melakukan hal yang sama, menyanyikan cerita epik ini dalam bentuk tembang.

Interpretasi
Legenda ini adalah cerita rakyat Sunda untuk menjelaskan asal nama Sungai Pamali, serta untuk menjelaskan asal-usul hubungan orang Sunda dengan orang Jawa; tentang dua bersaudara yang bersaing dan memerintah di pulau yang sama (Jawa). Menurut keyakinan ini, orang Sunda menganggap orang Jawa sebagai saudara mereka yang lebih tua, walaupun kerajaan di tanah Sunda (Kerajaan Galuh) lebih tua dari kerajaan yang didirikan di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Hal ini kemudian berhubungan dengan fakta sejarah bahwa kerajaan tertua di Jawa memang terletak di Jawa Barat, yaitu Kerajaan Tarumanagara.


Desa Cupunagara



                  
Wilayah
  1. Pemetaan Wilayah
Desa cupunagara merupakan salah satu desa yang terletak di Kecamatan cisalak, Kabupaten Subang. Sebuah desa yang luas dan indah, merupakan dataran tinggi yang memiliki luas wilayah 3.226,201 Ha dan dengan batas-batas wilayah sebelah utara berbatasan Utara Desa Cibitung Kecamatan Ciater, sebelah selatan Kabupaten Bandung, sebelah timur Desa Maang Kecamatan Tanjung Siang dan sebelah barat Wangun Harja, Lembang. Desa Cupunagara dikelilingi dengan perkebunan teh terutama di dusun Sukamulya oleh karena itu desa cupunagara memiliki produk unggulan di bidang perkebunan yaitu  teh tidak hanya itu terdapat pula keunggulan lain dalam perkebunan yaitu gula aren. Alat transportasi umum yang digunakan di desa ini hanyalah ojek dan sedikit adanya kendaraan mobil. Karena akses jalan yang sangat jauh, sehingga warga banyak yang memilih berjalan kaki dan kendaraan bermotor roda dua daripada mobil. Jumlah Penduduk desa cupunagara + 5000 jiwa dan Jumlah KK  + 2500.
Aparatur desa:
Nama Kepala Desa                       : Bpk. Ateng Rosidin
Kepala Dusun Bukanagara          : Bpk.Kusman
Kepala Dusun Sukamulya           : Bpk.Ita Kuswara
Kepala Dusun Cimangun             : Bpk. Aceng
Kepala Dusun Cibitung                 : Bpk. Asep
Foto peta Desa Cupunagara





Desa Cupunagara terdiri dari 4 Dusun, yaitu Dusun Bukanagara, Dusun Sukamulya, Dusun Ciwangun, dan Dusun Cibitung. Adapun Jarak antar dusun dengan menjadikan dusun Sukamulya sebagai patokan awal yakni :
Dusun Sukamulya dengan dusun bukanagara                       : + 2KM
Dusun Sukamulya dengan dusun Ciwangun              : + 5 KM
Dusun Sukamulya dengan dusun Cibitung                  : + 7 KM
Dengan kendalanya :
-       Jalan Rusak
-       Jarak antar dusun dan Desa Cupunagara ke kecamatan sangat jauh
-       Tidak adanya angkutan umum khusus transportasi antar dusun
Sementara itu Jarak dari desa ke Kecamatan Cisalak / Pusat Pemerintahan 17 KM . Mayoritas mata pencaharian Penduduk ialah Bertani dan Berkebun. Walau ada pula yang melakukan usaha kecil-kecilan seperti berdagang dan lain-lain
Desa cupunagara memiliki keunikan lain yakni memiliki mata air sebanyak 7 titik dan tempat-tempat yang dikeramatkan Masyarakat yaitu :
-       Situs Cipabeasan terletak di dusun 2 tepatnya di kampung Sukamulya desa Cupunagara yang konon dipercayai masyarakat sebagai tempat berziarah untuk mandi (agar awet muda, mendapat jodoh), danau yang ditumbuhi pohon Bayongbong (konon merupakan tumbuhan yang dianggap sebagai asal muasal padi), aliran air danau dan sungai yang terkadang berwarna putih seperti air beras. Oleh karenanya daerah ini dinamai Cipabeasan. Masyarakat pada umumnya melakukan kegiatan ritual guna mengharapkan keselamatan dan hasil panen yang baik.
-       Gunung Sunda
-       Napak Tilas Eyang :
Dusun 1: Embah Gajahgumarang, Eyang Sumadilaga
Dusun 2: Eyang Prabuwali, Eyang Murjang
Dusun 3: Eyang Cibadak
Dusun 4: Eyang Haji
Tempat kramat tersebut memiliki juru kunci/kuncen yang menjaga dan melestarikan tempat tersebut dan mendapat SK dari pemerintah diantaranya:
-          Pa Aweng
-          Ibu Enes
-          Ibu Rohmah
Terdapat pula beberapa nama kuncen lain yang mengelola tempat-tempat tersebut namun belum memiliki SK.
Para tokoh-tokoh masyarakat diantaranya:
Pemangku Adat[1] : Bpk.Rahmat
Pemangku Agama   : Bpk. Olih dan Bpk.Hj. Dana
Kepala MUI              : Bpk Hj.Tajudin
Tokoh Seni Musik   : Bpk. Ade
Luas Wilayah yang telah digunakan :
LUAS PEMUKIMAN
46 ha/m²
LUAS PERSAWAHAN
260 ha/m²
LUAS PERKEBUNAN
1040 ha/m²
LUAS KUBURAN
5 ha/m²
LUAS PEKARANGAN
1 ha/m²
LUAS TAMAN
-
PERKANTORAN
3 ha/m²
LUAS PRASARANA UMUM LAINNYA
3 ha/m²
TOTAL LUAS
1358 ha/m²
Tanah Sawah
Sawah irigasi teknis
-
Sawah irigasi ½ Teknis
235 ha/m²
Sawah tadah hujan
25 ha/m²
Sawah pasang Surut
-
Tegal/Ladang
17 ha/m²
Pemukiman
46 ha/m²
Pekarangan
1 ha/m²
Total Luas
64  a/m²
Tanah Perkebunan Rakyat
-Ha/m²
Tanah Perkebunan Negara
60 ha/m²
Tanah Perkebunan Swasta
-Ha/m²
Tanah Perkebunan perorangan
8 ha/m²
Total Luas
68 ha/m²
Desa Cupunagara memiliki Potensi yaitu :
-       Pemandangan yang indah dimana setiap dusun diapit dan   berbatasan  langsung    dengan gunung, sungai dan lembah
-       Udara yang masih Asri
-       Tempat-tempat bersejarah
-       Dekat dengan Lembang
-       Adanya berbagai macam kesenian Tradisional dan acara adat (Alat musik : kecapi, suling dan gendang. Kesenian : Sisingaan dan Tarduk).
1. Asal Muasal Situs Cipabeasan dan penamaan desa Cupunagara[2]
Pasir Kerta Manah
Lembah pasir kertamanah terdapat tempat yang bernama cipabeasan, terdapat danau yang berbentuk seperti tempat beras/goah/gentong. laki-laki tabu, tidak boleh menyimpan dan mengambil beras. Jika ada maka mereka2 akan mengalami hal kewanitaan seperti datang bulan. Konon katanya ketika masih ada manusia setengah dewa di sini terdapat kerajaan. Terdapat pula batu lawang sebagai tempat untuk bertahta. Seorang raja dan tempat perlindungan dari serangan musuh. Jika dilihat bukit di cibaeasan itu berbentuk seperti istana. Kemudian disinilah merupakan pusat kerajaan yang bernama Buninagara.
Nama rajanya yakni:
Bu =Buana, Ni = Ningrat, Na = Naga, Ra = Rastapati
Jaman dahulu didalam mengetahui luas kekuasaan seorang raja itu berdasarkan dengan apa yang dilihat (sejauh mata memandang).
Lalu mengapa cipabeasan dikeramatkan ?
Terdapat 4 titik yang dianggap terdapat keramat.  Dimana para juru kunci/kuncen konon mendapat ilham. Berdasarakan dari apa yang dikatakan oleh tokoh adat. Ratu ayu komalaningru, Dewi ratna ningrum, Dewi sri ningrum, Dewi naga ningrum
Mereka-mereka tinggal di kaputren (tempat tinggal istri raja) “Eyang tolong sampaikan sama Allah……” Berikut petikan kata2 para peziarah. Sekali lagi ini hanya merupakan mitos belaka. Tempat ini selalu didatangi para peziarah untuk : Mendapatkan hasil panen yang berlimpah, awet muda dan jodoh. Keunikan lain dari Cipabeasan itu terkadang keluar air berwarna putih  seperti beras, dan penampakan ikan mas besar. Kemudian setelah beberapa lama kerajaannya pun berganti dan bernama menjadi kerajaan Cipunagara.
Dimana rajanya itu bernama Ci = Ciungwanara, Pu = Putra, Na = Naganingrum, Ga = gantayang, Ra = rande
Ciungwanara sendiri merupakan raja pasundan yang terkenal. Konon gentayang rande itu terkadang menjelma menjadi ular.
Tetapi, kerajaan ini dipegang dan dijalankan oleh : Nyi raden cipunaganingrum. Dan dibantu oleh 4 orang :
-          Jaga raga
-          Prabu ider buana (suka menampkan diri berupa ular untuk menakut-nakuti bagi yang akan berbuat jahat)
-          Prabu gender
-          Prabu kerti ( bukit kertamanah, masih dugaan)
Berikut dan periode kerajaan yang menguasai. Sampai suatu ketika terjadi bencana longsor dan menutupi danau dan secara tiba-tiba ditumbuhi tumbuhan bayombong.
Ritual besar umumnya dilakukkan masyarakat terutama pada 14 Mauludan, rincian ritualnya yakni seperti:
-          Tawasulan
-          Mengambil bayombong
Konon bayombong itu adalah nenek moyang padi. Tidak berbuah hanya berbunga dan dikawinkan dengan tanaman Manjah yang hanya berbuah tidak berbunga, jadilah padi.
Dipercaya dahulu kala tumbuhan bayombong ini merupakan kenang-kenangan dari nenek moyang (dewi sri ningrum). Barang siapa yang membawa dan menanam bayombong di sawah mereka maka dipercaya padi akan tumbuh subur dan berisi.
Digunakan pula untuk meminta sambil tawasulan, jika jumlah helai daun bertambah maka keinginan akan terkabul (dilakukan di kapuntren dewi sri). Jadi, jika dilihat dari kisahnya dapat disimpulkan bahwa asal muasal padi itu berasal dari sejarah cipabeasan.
Uniknya hingga saat ini tumbuhan bayombong tidak pernah mati bahwa pernah dibabat namun tetaplah tumbuh subur kembali. Dan konon jika Bayongbong di Cipabeasan tumbuh baik maka padipun akan tumbuh baik. Demikian legenda buminagara dan cipunagara. Ini hanya mitos desa dan bersumber pada tokoh adat setempat.
Cupunagara
Cupunagara merupakan berasal dari peristiwa berpindahnya raja dari tempat yang longsor yang mana menimbun kerajaan buninagara dan cipunagara.
Nama kerajaan yang pindah itu sendiri yakni Cupunagara dimana Nama rajanya Cu=Curawinangai, Pu=Purtodewo, Na=Naga, Ra=Rande berdasarkan mitos kerajaan. Sementara itu terdapat pula penafsiran lain yakni : Cupunagara : cupu+naga+sagara.
Cupu= adalah tempat menyimpan barang antik/pusaka dan jimat. Jimat sendiri memiliki dua persepsi yang berbeda ada jimat yang berarti sebuah benda pusaka, ada pula yang mendefinisikan jimat sebagai sebuah putra mahkota, putra bangsa terbaik. Diharapkan jika keluar dari cupu maka akan bermanfaat bagi negara kelaknya. Dengan dasar seperti itu maka bekas napak tilas pusat kerajaan Cupunagara itu dibangun sekolah-sekolah seperti SD dan SMP dengan maksud dan tujuan bahwa sekolah tersebut nantinya dapat melahirkan putra-putri bangsa terbaik selayaknya mitos dari cupu itu sendiri.
Naga = nama Naga sendiri itu berasal dari bentuk mata air dan sungai yang seperi naga, terletak dan dapat dilihat jika kita berada di pegunungan kampung sukamulya. Seperti naga yang sedang membuka mulutnya.
Sagara = hilir sungai yang berasal dari hulu sungai yang terletak di desa cupunagara.
Berikut sejarah asal muasal nama desa cupunagara beserta tempat-tempat yang dikeramatkannya.

[1] Baru ditetapkan sebagai pemangku adat desa Cupunagara pada tanggal 10 Februari 2011 oleh Sekretaris Kecamatan Bpk. Vino S
[2] Berdasarkan mitos yang disampaikan oleh Bapak Rahmat selaku Tokoh Mangku adat desa cupunagara
 

Pemangku Adat Bpk. Mamat Rahmat  
Bayongbong


Danau Cipabeasan

Gambar Cupunagara


Adapun kekurangan di desa Cupunagara berdasarkan orientasi wilayah yakni didapat sebagai berikut :
-       Akses jalan rusak
-       Banyak lahan yang masih kosong dan belum digunakkan
-       Jarak antar dusun yang jauh dengan topografi yang berbeda
-       Tidak adanya petunjuk arah, nama wilayah/kampung, nama tempat-tempat yang dikramatkan dan tempat-tempat penting lainya sehingga bagi orang yang awam akan merasa kebingungan jika berada di desa ini.
-       Belum adanya pemetaan dan pemanfaatan potensi desa yang bersifat intensif.
Dengan melakukan survey ke berbagai dusun, maka telah didapat bahwa dusun bukanagara dan dusun sukamulya  memiliki wilayah yang didominasi oleh Perkebunan (teh). Sementara itu dusun Ciwangun dan dusun Cibitung lebih didominasi oleh Persawahan. Masih banyaknya lahan-lahan kosong yang belum digunakan jika melihat dari perbandingan antara luas wilayah desa cupunagara keseluruhan dengan luas wilayah yang telah digunakan. Adanya perbedaan kemajuan dalam bidang pembangunan wilayah/ dusun yang memiliki luas wilayah lebih banyak perkebunan terlihat lebih maju daripada pembangunan di wilayah yang kurang perkebunan dan lebih banyak pertanian, ditambah jarak yang cukup jauh antar dusun dan dengan topografi dan ralief yang berbeda. Terdapat pabrik pengelolaan dan pengolahan Teh yakni PTPN. (Dekat dengan Dusun Bukanagara, Dusun Sukamulya), karena kedua dusun tersebut memiliki perkebunan teh ang luas, berbeda dengan dusun cimangun dan dusun cibitung.
Adapun solusi yang dapat kami berikan antara lain, Perbaiki akses jalan utama yakni dari dermaga menuju desa ini dan jalan antar dusun dan tempat-tempat penting lainnya. Pemanfaatan lahan yang masih kosong/belum digunakan dengan menanam bibit-bibit tumbuhan yang belum ada. Diadakannya angkutan umum desa sebagai penghubung antar dusun guna memperlancar akses ekonomi dan pemasaran . Melakukan pemetaan wilayah oleh aparat setempat berdasarkan potensi-potensinya. Penetapan tokoh adat dan kebudayaan karena sejauh ini belum ada pemangku adat yang secara khusus mengelola adat, seni dan kebudayaan desa cupunagara.[1]

[1] Baru ditetapkan sebagai pemangku adat desa Cupunagara pada tanggal 10 Februari 2011 oleh Sekretaris Kecamatan Bpk. Vino S,